Pada abad ke 13 sebelum masehi telah datang dua pasangan suami istri (Pasutri) di daerah selatan tepatnya dari Kerajaan Galuh Pakuan Pajajaran. Kedua pasutri itu dengaja mengasingkan diri karena negaranya pada waktu itu dalam keadaan genting setelah mendapatkan serangan dari pihak musuh yang akan menguasainya.Dalam menjalani kehidupannya mereka memilih bercocok tanam seperti padi, palawija dan lain-lain. Selain tanaman itu, mereka mencoba menanam bibit Asem Kranji yang secara kebetulan bibit itu ditemukan. Ternyata setelah di tanam, tumbuhnya sangat pesat sehingga terus dipelihara dengan baik.Seiring dengan berjalannya waktu, semakin lama bibit Asem Kranjit itu tumbuh besar dan berbuah banyak, sehingga setiap tahunnya mendapatkan hasil yang memuaskan. Kehidupan keempat orang itu (laki-laki 2 dan prempuan 2) cukup dengan memanen hasil Asem Kranji tersebut.
Karena sumber kehidupan mereka itu dari Asem Kranji hingga populer dan tersebar ke berbagai pelosok penjuru daerah. Bahkan kediaman disebut Dukuh Kranji. Kalau saat ini berada di Kampung Pasarean Desa Wanajaya Kec. Dawuan. Kemudian masyarakat memberi julukan kepada orang laki-laki itu disebut Bapak Kranji atau Ki Gedeng Pasarean, sampai akhir hayatnya kira-kira pada tahun 1360. Diduga karena bibit itu, akhirnya kawasan itu di kenal dengan nama Ranji. Itu terjadi diduga karena sulit disebut dan memudahkan pelapan dari Asem Kranji, nama populernya menjadi Ranji. Waktu terus berjalan dan penduduk itu semakin bertambah,masyarakatnya tetap memilih hidup bercocok tanam berupa padi dan palawija serta bibit yang Asem Kranji. Rumahnya terbuat berupa saung yang di buat dari pada tiang bambu dan atapnya daun kelapa atau alang-alang.
- Pembuatan DAM/Bendungan Air
- Berikut sekilas perjalanan ke empat tokoh tersebut
- Ki Gedeng Jaga Kerti pada pertengahan abad ke 15 berpindah ke Cipelang Belendung, Daerah Kabupaten Sumedang dan meninggal kira-kira tahun 1470 di makamkan di Cipelang.
- Ki Gedeng Baregbeg berpindah ke Babakan Jawa Majalengka dan meninggal kira-kira tahun 1485 dan di makamkan di Babakanjawa Majalengka.
- Ki Gedeng Kopral menetap di Kranji, meninggal kira-kira tahun 1490 dan di makamkan di Blok Jum’at sebelah timur Balai Desa Ranji Wetan.
- Ki Gedeng Gerendong menetap di Kranji, meninggal kira-kira tahun 1501 dan di makamkan di Makam Buyut Gerendong dekat Kampung Tarikolot Kranji.
- Kedatangan Patih Mataram
Pada tahun 1630, dearah Ranji kedatangan dua orang utusan Patih dari Mataram,yakni Patih Sindujaya dan Patih Sindujati. Beliau pulang dari Negara Sindangkasih, setelah melamar Puteri Sindangkasih untuk Raja Mataram. Tetapi keduanya gagal sehingga kedua Patih tersebut di kejar balatentara Sindangkasih dan berhasil lolos, dengan bersembunyi di hutan yang ada Kranji (sekarang disebut Blok Buyut Limbungan). Singkat cerita, Patih Sindujaya meninggal kira-kira tahun 1635 dan di makamkan di Makam Limbungan.
Adapun Patih Sindujati, setelah kawannya meninggal, beliau berpindah ke Desa Weragati Kecamatan Leuwimunding (sekarang termasuk Kecamatan Palasah) hingga akhir hayatnya kira-kira pada tahun 1640, dan di makamkan di Weragati.Kedatangan Patih Mataram ke dua. Pada tahun 1633, lama-kelamaan utusan kedua Patih tersebut belum juga memberikan kabar, maka Raja Mataram mengutus kembali dua Patih yang bijaksana bernama Patih Shunantaka dan Patih Perenantaka yang maksudnya sama melamar Puteri Sindangkasih (Nyai Rambut Kasih). Tetapi dalam perjalannya kedua Patih itu menemui kegagalan lagi. Sama seperti halnya nasib kedua utusan patih yang pertama, kedua Patih kedua ini pun melarikan diri dari kepungan bala tentara Sindangkasih yang akhirnya tiba lagi di Kranji dan menetap di sana sampai keduanya meninggal dunia kira-kira pada pertengahan abad ke 17 dan di makamkan di Gerendong.
Pada tahun 1635, karena Patih Mataram Shunantaka dan Perenantaka tidak ada kabar, maka Raja Mataram memerintahkan kembali seorang Patih yang sakti mantra guna dan gagah perkasa bernama Patih Resmi Permana (Tuan Pangadegan). Namun setelah tiba di Negara Sindangkasih patih yang gagah perkasa pun mengalami kegagalan yang serupa dan meloloskan diri.Namun dalam pelarian itu ia pun mencari dan menyelidiki utusan patih-patih terdahulu, yang pada akhirnya tiba lagi di Kranji, sampai ia pada sekitar tahun 1645 dan dimakamkan di Astanagede sebelah barat SD Inpres Sindu Resmi (SD Ranjiwetan IV sekarang).Menyinggung penamaan nama SD Inpres Sindu Resmi, itu lebih dikarenakan SD itu lokasinya ada diantara Makam Sindujaya dan Makam Resmi Permana. Maka SD Inpres tersebut dinamai SD Inpres Sindu Resmi (sekarang SD Ranjiwetan IV).
- Julukan Kokolot Dukuh (Kepala Desa)
Pada tahun 1761 Bale Desa dipindahkan ke Blok Jum’ah (sekarang Tarikolot).Selanjutnya,pada Tahun 1802 diadakan perubahan lagi, nama Demang menjadi Kuwu. Yang terpilih saat itu H. Idris dan meninggal pada tahun 1849 dan dimakamkan di Makam Limbungan. Seiring dengan berjalannya waktu, di Desa Ranjiwetan ada sebuah Pondok Pesantren yang menjadi Pengasuhnya KH. ANWAR. Salah satu santrinya yang saat ini menjadi pahlawan/tokoh nasional KH. ABDUL HALIM (Pendiri ormas Persatuan Umat Islam (PUI). Beliau mondok pesantren selama 4 tahun (1987-1901), dan saat ini nama pesantren itu diberinama Kampung Pasantren.
Pada tahun 1898, karena Desa Ranji sangat luas daerahnya, maka atas keputusan Pemerintah Belanda waktu itu dibagi menjadi dua desa. Desa Ranjiwetan berbatasan dengan jalan desa sebelah timur sampai batas Desa Sukaraja, (seluas 804 Ha). Kuwunya waktu itu H. Abdurrohman.Desa Ranjikulon. perbatasan jalan desa sebelah barat sampai batas Desa Kasokandel, Leuwikidang, dan Baribis dengan areal tanah seluas 900 Ha. Yang menjadi Kuwunya Madarum.Pada tahun 1983 disaat Kepala Desa Bapak Toto Warsito, Desa Ranjiwetan dipecah menjadi dua desa yakni Desa Wanajaya. Sedangkan Desa Ranjikulon dipecah dengan Desa Jatimulya.Keberadaan Desa Ranji saat ini sudah menjadi empat desa dan berada di wilayah Kecamatan Kasokandel (sampai dengan bulan Maret 2008 masih termasuk wilayah Kecamatan Dawuan).







0 comments:
Posting Komentar