Kabupaten Majalengka
Kabupaten Majalengka adalah
sebuah kabupaten di Tatar
Pasundan provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu
kotanya Majalengka.
Majalengka
juga nama yang sama digunakan dengan nama Kabupaten yang terletak di Jawa
Barat. Sebagai Kota Kabupaten sudah tentu daerah ini mempunyai sejarah serta
asal-usulnya sendiri. Hampir setiap orang Majalengka Percaya bahwa Majalengka
berasal dari bahasa Cirebon yaitu dari kata Majae dan Langka,
kata "Maja-e" artinya Buah Maja-nya, sedang kan kata
"Langka" artinya Hilang[4] atau tidak
ada.
Sejarah
Pada zaman
kerajaan Hindu-Buddha sampai
dengan abad ke-15,
di wilayah Kabupaten Majalengka terbagi menjadi 3 kerajaan:
1. Kerajaan
Talaga Manggung dipimpin oleh Sunan Corenda atau lebih dikenal
dengan sebutan Sunan Parung
2. Kerajaan Rajagaluh dipimpin oleh Prabu
Cakraningrat
3. Kerajaan Sindangkasih, dipimpin oleh seorang
puteri bernama Nyi Rambut Kasih
Terdapat
banyak cerita rakyat tentang ke-3 kerajaan tersebut yang sampai dengan saat ini
masih hidup di kalangan masyarakat Majalengka. Selain cerita rakyat yang masih
diyakini juga terdapat situs, makam-makam dan benda-benda purbakala, yang
kesemuanya itu selain menjadi kekayaan daerah juga dapat digunakan sebagai
sumber sejarah.
Kerajaan Talaga Manggung
Raja Batara Gunung Picung
Kerajaan Hindu di Talaga berdiri pada abad XIII Masehi, Raja tersebut masih keturunan Ratu Galuh bertahta di Ciamis, dia adalah putera V, juga ada hubungan darah dengan raja-raja di Pajajaran atau dikenal dengan Raja Siliwangi. Sunan Talaga manggung putra Pandita Prabu Darmasuci putra Batara Gunung Picung putera Suryadewata putera bungsu dari Maharaja Sunda Galuh Prabu Ajiguna Linggawisesa (1333-1340) di Galuh Kawali, Ciamis. Penguasa Kerajaan Sunda Galuh biasanya digelari Siliwangi. Daerah kekuasaannya meliputi Talaga, Cikijing, Bantarujeg, Lemahsugih, Maja dan sebagian Selatan Majalengka.Pemerintahan Batara Gunung Picung sangat baik, agam yang dipeluk rakyat kerajaan ini adalah agama Hindu.Pada masa pemerintahaannya pembangunan prasarana jalan perekonomian telah dibuat sepanjang lebih 25 Km tepatnya Talaga - Salawangi di daerah Cakrabuana.Bidang Pembangunan lainnya, perbaikan pengairan di Cigowong yang meliputi saluran-saluran pengairan semuanya di daerah Cikijing.Tampuk pemerintahan Batara Gunung Picung berlangsung 2 windu.Raja berputera 6 orang yaitu :- Sunan Cungkilak - Sunan Benda - Sunan Gombang - Ratu Panggongsong Ramahiyang- Prabu Darma Suci- Ratu Mayang KarunaAkhir pemerintahannya kemudian dilanjutkan oleh Prabu Darma Suci.
Raja Prabu Darma Suci
Disebut
juga Pandita Perabu Darma Suci. Dalam pemerintahan raja ini Agama Hindu berkembang
dengan pesat (abad ke-XIII), nama dia dikenal di Kerajaan Pajajaran, Jawa
Tengah, Jayakarta sampai daerah Sumatra. Dalam seni pantun banyak diceritakan
tentang kunjungan tamu-tamu tersebut dari kerajaan tetangga ke Talaga, apakah
kunjungan tamu-tamu merupakan hubungan keluarga saja tidak banyak
diketahui.Peninggalan yang masih ada dari kerajaan ini antara lain Benda
Perunggu, Gong, Harnas atau Baju Besi.Pada abad XIIX Masehi dia wafat dengan
meninggalkan 2 orang putera yakni:- Bagawan Garasiang - Sunan Talaga Manggung
Raja Sunan Talaga Manggung
Takhta
untuk sementara dipangku oleh Begawan Garasiang,namun dia sangat mementingkan
Kehidupan Kepercayaan sehingga akhirnya tak lama kemudian takhta diserahkan
kepada adiknya Sunan Talaga Manggung.Tak banyak yang diketahui pada masa
pemerintahan raja ini selain kepindahan dia dari Talaga ke daerah Cihaur Maja.
Raja Sunan Talaga Manggung
Sunan
Talaga Manggung merupakan raja yang terkenal sampai sekarang karena sikap dia
yang adil dan bijaksana serta perhatian dia terhadap agama Hindu, pertanian,
pengairan, kerajinan serta kesenian rakyat.Hubungan baik terjalin dengan
kerajaan-kerajaan tetangga maupun kerajaan yang jauh, seperti misalnya
dengan Kerajaan Majapahit, Kerajaan Pajajaran, Kerajaan
Cirebon maupun Kerajaan Sriwijaya.Dia
berputera dua, yaitu :- Raden Pangrurah - Ratu Simbarkencana Raja wafat akibat
penikaman yang dilakukan oleh suruhan Patih Palembang Gunung bernama
Centangbarang. Kemudian Palembang Gunung menggantikan Sunan Talaga Manggung
dengan beristrikan Ratu Simbarkencana. Tidak beberapa lama kemudian Ratu
Simbarkencana membunuh Palembang Gunung atas petunjuk hulubalang Citrasinga
dengan tusuk konde sewaktu tidur.Dengan meninggalnya Palembang Gunung, kemudian
Ratu Simbarkencana menikah dengan turunan Panjalu bernama Raden Kusumalaya Ajar
Kutamanggu dan dianugrahi 8 orang putera di antaranya yang terkenal sekali
putera pertama Sunan Parung.
Raja Ratu Simbarkencana
Sekitar
awal abad
XIV Masehi, dalam tampuk pemerintahannya Agama Islam menyebar
ke daerah-daerah kekuasaannya dibawa oleh para Santri dari Cirebon.juga
diketahui bahwa takhta pemerintahan waktu itu dipindahkan ke suatu daerah
disebelah Utara Talaga bernama Walangsuji dekat kampung Buniasih (Desa Kagok Banjaran) .Ratu Simbarkencana setelah wafat
digantikan oleh puteranya Sunan Parung.
Raja Sunan Parung
Pemerintahan Sunan Parung tidak lama, hanya beberapa tahun saja.Hal yang penting pada masa pemerintahannya adalah sudah adanya Perwakilan Pemerintahan yang disebut Dalem, antara lain ditempatkan di daerah Kulur, Sindangkasih, Jerokaso Maja.Sunan Parung mempunyai puteri tunggal bernama Ratu Sunyalarang atau Ratu Parung.
Kerajaan Islam Talaga (Pengaruh Kasultanan Cirebon)
Raja Ratu Sunyalarang
Sebagai
puteri tunggal dia naik takhta menggantikan ayahandanya Sunan Parung dan
menikah dengan turunan putera Prabu Siliwangi bernama Raden Rangga Mantri atau
lebih dikenal dengan Prabu Pucuk Umum.Pada masa pemerintahannya Agama Islam
sudah berkembang dengan pesat. Banyak rakyatnya yang memeluk agama tersebut
hingga akhirnya baik Ratu Sunyalarang maupun Prabu Pucuk Umum memeluk Agama
Islam. Agama Islam berpengaruh besar ke daerah-daerah kekuasaannya antara lain
Maja, Rajagaluh dan Majalengka.Prabu Pucuk Umum adalah Raja Talaga ke-2 yang
memeluk Agama Islam. Hubungan pemerintahan Talaga dengan Cirebon maupun
Kerajaan Pajajaran baik sekali. Sebagaimana diketahui Prabu Pucuk Umum adalah
keturunan dari prabu Siliwangi karena dalam hal ini ayah dia yang bernama Raden
Munding Sari Ageung merupakan putera dari Prabu Siliwangi. Jadi pernikahan
Prabu Pucuk Umum dengan Ratu Sunyalarang merupakan perkawinan keluarga dalam
derajat ke-IV.Hal terpenting pada masa pemerintahan Ratu Sunyalarang adalah
Talaga menjadi pusat perdagangan di sebelah Selatan.
Raja Rangga Mantri atau Prabu Pucuk Umum
Dari
pernikahan Raden Rangga Mantri dengan Ratu Parung (Ratu Sunyalarang putri Sunan
Parung, saudara sebapak Ratu Pucuk Umun suami Pangeran
Santri ) melahirkan 6 orang putera yaitu :- Prabu Haurkuning
- Sunan Wanaperih - Dalem Lumaju Agung- Dalem Panuntun - Dalem
Panaekan Akhir abad XV Masehi, penduduk Majalengka telah beragama Islam.Dia
sebelum wafat telah menunjuk putera-puteranya untuk memerintah di daerah-daerah
kekuasaannya, seperti halnya :Sunan Wanaperih memegang tampuk pemerintahan
di Walagsuji; Dalem Lumaju Agung di kawasan Maja; Dalem Panuntun di Majalengka
sedangkan putera pertamanya, Prabu Haurkuning, di Talaga yang selang kemudian
di Ciamis. Kelak keturunan dia banyak yang menjabat sebagai Bupati.Sedangkan
dalem Dalem Panaekan dulunya dari Walangsuji kemudian berpindah-pindah menuju
Riung Gunung, sukamenak, nunuk Cibodas dan Kulur.Prabu Pucuk Umum dimakamkan di
dekat Situ Sangiang Kecamatan Talaga.
Raja Sunan Wanaperih
Terkenal Sunan Wanaperih, di Talaga
sebagai seorang Raja yang memeluk Agama Islam pun juga seluruh rakyat di negeri
ini semua telah memeluk Agama Islam. Dia berputera 6 orang, yaitu :- Dalem
Cageur - Dalem Kulanata - Apun Surawijaya atau Sunan Kidul- Ratu Radeya - Ratu
Putri - Dalem Wangsa
Goparana. Diceritakan bahwa Ratu Radeya menikah dengan Arya
Sarngsingan sedangkan Ratu Putri menikah dengan putra Syekh Abdul Muhyi dari
Pamijahan bernama Sayid Faqih Ibrahim lebih dikenal Sunan Cipager. Dalem
Wangsa Goparana pindah ke Sagalaherang
Cianjur, kelak keturunan dia ada yang menjabat sebagai bupati
seperti Bupati Wiratanudatar
I di Cikundul. Sunan Wanaperih memerintah di Walangsuji, tetapi
dia digantikan oleh puteranya Apun Surawijaya, maka pusat pemerintahan kembali
ke Talaga. Putera Apun Surawijaya bernama Pangeran Ciburuy atau disebut juga
Sunan Ciburuy atau dikenal juga dengan sebutan Pangeran Surawijaya menikah
dengan putri Cirebon bernama Ratu Raja Kertadiningrat saudara dari Panembahan
Sultan Sepuh III Cirebon.Pangeran Surawijaya dianungrahi 6 orang anak yaitu -
Dipati Suwarga-Mangunjaya - Jaya Wirya - Dipati Kusumayuda - Mangun Nagara -
Ratu Tilarnagara Ratu Tilarnagara menikah dengan Bupati
Panjalu (Kerajaan Panjalu Ciamis) yang bernama Pangeran Arya
Sacanata yang masih keturunan Prabu Haur Kuning. Pengganti Pangeran
Surawijaya ialah Dipati Suwarga menikah dengan Putri Nunuk dan berputera 2
orang, yaitu :- Pangeran Dipati Wiranata- Pangeran Secadilaga atau
pangeran Raji Pangeran Surawijaya wafat dan digantikan oleh Pangeran Dipati
Wiranata dan setelah itu diteruskan oleh puteranya Pangeran Secanata Eyang Raga
Sari yang menikah dengan Ratu Cirebon menggantikan Pangeran Secanata. Arya
Secanata memerintah ± tahun 1762.
Kerajaan Sindangkasi
Mandala Sindangkasih dan Kerajaan Sindangkasih
Kerajaan
dan wilayah Jawa Barat tidak dapat dipisahkan dari kata Sunda. Pada mulanya
kata “Sunda” atau “Suddha” dalam bahasa
Sanskerta diterapkan pada nama sebuah gunung yang menjulang tinggi di bagian
barat Pulau Jawa yang dari jauh tampak putih karena tertutup abu asal gunung
tersebut.
Keberadaan
kerajaan Sindangkasih pada tahun 1480 atau pertengahan abad ke-15.[7]Kerajaan
Sindangkasih disebutkan dalam berbagai naskah Babad di tanah Sunda. Pandangan
masyarakat Sunda bahwa kemandalaan sering kali disebut sebagai kerajaan.
Pandangan ini muncul karena struktur kemandalaan yang juga memiliki prajurit
pengamanan sering kali diersamakan dengan kerajaan. Termasuk Kemandalaan
Sindangkasih, Mandala Sindangkasih dipertukarkan
pengertiannya dengan kerajaan.
Kesulitan
pengertian dalam historiografi modern Barat, struktur kerajaan adalah sebuah
struktur badan, wilayah dan administratif. Pandangan ini berbeda bagi
masyarakat Nusantara.
Bisa kita cermati bahwa Kerajaan
Sriwijaya, Majapahit dan Tarumanagara juga
disebut Mandala.
Dalam
pengertian historis, sosial dan politik, istilah "mandala" juga
digunakan untuk menunjukkan formasi politik tradisional Asia Tenggara (seperti
federasi kerajaan atau negara-negara atau kerajaan kecil). Ini diadopsi oleh
para sejarawan Barat abad ke-20 dari wacana politik India kuno sebagai sarana untuk menghindari
istilah 'negara' dalam pengertian konvensional. Tidak hanya negara-negara Asia Tenggara yang
tidak sesuai dengan pandangan Cina dan Eropa tentang negara yang ditetapkan
secara teritorial dengan perbatasan tetap dan aparatur birokrasi, tetapi mereka
berbeda jauh dalam arah yang berlawanan: pemerintahan didefinisikan oleh
pusatnya daripada batas-batasnya, dan itu bisa tersusun dari banyak
pemerintahan jajahan lainnya tanpa mengalami integrasi administratif. Kerajaan
seperti Bagan, Ayutthaya, Champa, Khmer, Sriwijaya dan Majapahit dikenal
sebagai "mandala" dalam pengertian ini.[8]
Beberapa
Mandala atau kemandalaan di tatar Sunda ada yang berkembang menjadi kerajaan.
Misalnya Mandala Indraprahasta menjadi Kerajaan
Indraprahasta; Mandala Wanagiri menjadi Kerajaan
Wanagiri; Mandala Kendan menjadi Kerajaan Kendan
dengan rajanya yang termashur Gururesi atau Rajaresi Manik Maya berlokasi di
Rancaekek Bandung sekarang. Mandala Bitung Giri menjadi Kerajaan
Talaga Manggung Dan banyak lagi contoh lainnya.
Rupanya
Mandala Sindangkasih tidak tercatat berubah menjadi Kerajaan, kecuali dalan
Naskah Babad yang menyebutkan Kerajaan Sindangkasih yang dipimpin oleh seorang
ratu bernama Nyi Rambut Kasih.
Dalam
masa pemerintahan Dipati Ukur, Sindangkasih disebut sebagai Umbul Sindangkasih.
Istilah umbul setara dengan Kabupaten sekarang. Catatan dari Kerajaan
Sumedanglarang bahwa Sindangkasih merupakan bagian dari wilayah kerajaannya.
Mitos Nyi Rambut Kasih
Kerajaan
Sindangkasih dipimpin oleh seorang ratu, yaitu Ratu Nyi Rambut Kasih.[7] Ia anak dari
Ki Gedeng Sindang kasih yang berasal dari kata Gede Ing Sindangkasih. Artinya
Pembesar atau Pemimpin di Sindangkasih. Itu bukan nama orang tetapi sebutan
saja. Sama halnya dengan sebutan Siliwangi.
hal ini telah menjadi budaya di Sunda bahwa menyebut nama orang apalagi
pembesar adalah Tabu. Begitu pula orang yang disapa akan merasa dihormati.
Inilah
yang menyulitkan menelusuri sejarah Sunda di wilayah pedalaman (tengah pulau)
termasuk Sindangkasih. Sumber-sumber luar seperti dari Catatan Musafir China, Portugis dan Arab bisa menjadi
sumber sejarah (Proto-Sejarah).
Catatan Belanda bisa menjadi
sumber sejarah, karena dianggap bersumber dari dalam negeri. Keberadaan Sindangkasih
merujuk wilayah Kota
Majalengka Sekarang ada dalam tulisan catatan Belanda mengenai
perjalan selama masa perkebunan kopi: Namun tdak menyebutkan secara jelas bahwa
Sindangkasih adalah kerajaan, tetapi Sindangkasih adalah Kota Majalengka
sekarang.
Kembali
ke Mandala atau kabuyutan. Sepertinya,
Sindangkasih hanya berupa Kamandalaan atau Kabuyutan yang Bercorak Agama Hyang (Darma), Budha atau Hindu. Meskipun
dalam berbagai legenda diceritakan bahwa Nyi Rambut Kasih bergamana Hindu.
Berawal dari rencana mengunjungi Kerajaan Talaga, tetapi niat ini dibatalkan
karena kerajaan Talaga telah beragama Islam.
Sindangkasih dalam Wilayah Tatar Ukur
Sindangkasih
merupakan salah satu umbul dalam pemerintahan Bupati Wedana Dipati Ukur. Dipati Ukur
(Wangsanata atau Wangsataruna) adalah seorang bangsawan penguasa Tatar Ukur
pada abad ke-17.
Tatar dalam bahasa Sunda
berarti tanah atau wilayah. Sedangkan dipati (adipati) adalah gelar bupati
sebelum zaman kemerdekaan.Dipati Ukur adalah Bupati Wedana Priangan yang pernah
menyerang VOC di Batavia atas perintah Sultan Agung dari
Kesultanan Mataram pada tahun 1628. Serangan itu gagal, dan jabatan Dipati Ukur
dicopot oleh Mataram. Untuk menghindari kejaran pasukan Mataram yang akan
menangkapnya, Dipati Ukur dan pengikutnya hidup berpindah-pindah dan
bersembunyi hingga akhirnya ditangkap dan dihukum mati di Mataram. Umbul
Sindangkasih yang dipimpin Ki Somahita atau Tumenggung Tanubaya terlibat dalam
penangkapan Dipati Ukur.
Tumenggung
Tanubaya (ki Somahita) menjadi Umbul Sindangkasih, yaitu Garda
pertahanan Kesultanan
Mataram di Tatar Pasundan yang merupakan Wilayah Ukur dengan
Bupati Wedana Dipati Ukur. Umbul Sindang Kasih adalah 1 dari 3 Umbul wilayah
Ukur yang tidak patuh pada Dipati Ukur, hingga melaporkan Dipati Ukur ke Sultan
Agung Mataram.
Sesepuh dan Budayawan
Majalengka, Deddy Ahdiat pernah menggali asal usul Kota Majalengka secara
supranatural yang diliput SCTV dalam
program Potret, dan dikatakan bahwa Majalengka adalah Mataram peralihan.
Awalnya membingungkan, ternyata benar bila mengikuti kisah penangkapan Dipati
ukur tahun 1632.
Penangkapnya adalah tiga
umbul dari Priangan Timur, yaitu Umbul Sukakerta (Ki Wirawangsa), Umbul Cihaurbeuti (Ki Astamanggala)
dan Umbul
Sindangkasih (Ki Somahita). Dipati Ukur kemudian dibawa ke
Mataram dan oleh Sultan Agung dijatuhi hukuman mati pada tahun 1632
Berdasarkan data yang dikirimkan Rangga Gempol III pada
masa VOC, maka kekuasaan Prabu Geusan Ulun meliputi Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung, sebagai berikut:
·
Batas di sebelah Timur
adalah Garis Cimanuk - Cilutung ditambah Sindangkasih (daerah muara Cideres ke
Cilutung).
·
Di sebelah Barat garis
Citarum - Cisokan.
·
Batas di sebelah Selatan
laut.
·
Namun di sebelah Utara
diperkirakan tidak meliputi wilayahnya karena telah dikuasai oleh Cirebon.
Buku "Tijdschrift voor neërlands indie"
membahas Sindangkasih Majalengka
Berdasarkan data surat
dari Rangga Gempol III di atas, menunjukan data bahwa wilayah Sindangkasih
(Majalengka kota sekarang) adalah bagian dari Kerajaan
Sumedang Larang.
Meskipun awalnya Mandala
merupakan sebuah tempat suci keagamaan, tetapi penyebutannya mencakup ke dalam
wilayah yang lebih luas. Kota Majalengka sekarang dahulu disebut Sindangkasih.
Hingga abad ke-18 - abad ke-19, Setidaknya dalam buku "Tijdschrift voor neërlands indie" tahun 1844 masih menyebut kota Sindangkasih,
bukan Majalengka.[9] kota
Majalengka masih disebut Sindangkasih sebagaimana dicatat dalam buku "Commentaar
§ 1-1500. II. Staten en Tabellen", 1912 mengaskan bahwa Sindangkasih
yang dimaksud adalah Majalengka.[10] Buku ini
merupakan komentar atau review sejarah penyerangan Mataram ke Batavia dari sudut
pandang Belanda. Kejadian ini pada 17 Juni 1741. Yang paling tegas menyebutkan
pada buku "Handleiding bij de beoefening der land- en volkenkunde
van Nederlandsch-Oost Indie" lebih jelas dan tegas bahwa kota
Majalengka sekarang adalah Sindangkasih.[11][12]
Mengingat cara hidup di
lingkungan Mandala lebih berat daripada cara hidup di lingkungan Nagara, karena
lebih banyak aturan yang bersifat keagamaan berupa perintah dan larangan, maka
kiranya penduduk Mandala, termasuk orang Sindangkasih -majalengka generasi
pertama, merupakan orang-orang pilihan yang memiliki pengetahuan agama,
pengalaman rohani dan disiplin diri lebih banyak di bandingkan penduduk Nagara
yang umum. Hubungan antara Mandala dan nagara umumnya berlangsung baik, karena
kedua pihak saling membutuhkan. Nagara membutuhkan Mandala bagi keperluan dukungan
moral dan spiritual serta pemberian do’a restu.
Mandala dianggap oleh
Nagara sebagai pusat kesaktian, pusat kekuatan gaib, yang dapat memancarkan
pengaruhnya terhadap nagara. Baik atau buruk tergantung hubungan antara Mandala
dan Nagara.[13]
Kerajaan Rajagaluh
Kerajaan
Rajagaluh berada di Kecamatan
Rajagaluh, kurang lebih 35 km arah timur dari pusat kota
Majalengka. Desa Rajagaluh adalah sebuah Kerajaan dibawah wilayah
kekuasaan kerajaan
Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu
Siliwangi. Saat itu Kerajaan Rajagaluh dibawah tampuk pimpinan
seorang raja yang terkenal digjaya sakti mandraguna. Agama yang diantunya
adalah agama Hindu.
Pada tahun 1482 Masehi,
Syeh Syarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati)
mengembangkan Islam di Jawa Barat dengan
secara damai. Namun dari sekian banyak Kerajaan di tatar Pasundan hanya
Kerajaan Rajagaluh yang sulit ditundukan.
Setelah
Kerajaan Cirebon memisahkan diri dari wilayah Kerajaan Pajajaran maka
pembayaran upeti dan pajak untuk Kerajaan Cirebon dibebeaskan, tetapi untuk
Kuningan pajak dan upeti masih berlaku. Untuk penarikan pajak dan upeti dari
Kuningan Prabu Siliwangi mewakilkan kepada Prabu Cakra Ningrat dari
Kerajaan Rajagaluh. Akhirnya Prabu Cakra Ningrat mengutus Patihnya yang bernama
Adipati Arya Kiban ke Kuningan,
tetapi ternyata adipati Kuningan yang bernama adipati Awangga menolak
mentah-mentah tidak mau membayar pajak dengan alasan bahwa Kuningan sekarang
masuk wilayah Kerajaan Cirebon yang sudah membebaskan diri dari Kerajaan
Pajajaran. Sebagai akibat dari penolakannya maka terjadilah perang tanding
antara Adipati Awangga dan Adipati Arya Kiban. Dalam perang tanding keduanya
sama-sama digjaya, kekuatannya seimbang sehingga perang tanding tidak ada yang
kalah atau yang menang. Tempat perang tanding sekarang dikenal sebagai
desa "Jalaksana" artinya jaya dalam melaksanakan
tugas.
Syeh
Syarif Hidayatulloh mengutus anaknya Arya Kemuning yang dikenal sebagai Syeh
Zainl Akbar alias Bratakalana untuk membantu Adipati Awangga dalam menghadapi
Adipati Arya Kiban. Dengan bantuan Arya Kemuning akhirnya adipati Arya Kiban
dapat dikalahkan. Adipati Arya Kiban melarikan diri dan menghilang didaerah
Pasawahan disekitar Telaga Remis, sebagian prajuritnya ditahan dan sebagian
lagi dapat meloloskan diri ke Rajagaluh. Semenjak kejadian tersebut Kerajaan
Rajagaluh segera menghimpun kekuatannya kembali untuk memperkokoh pertahanan
menakala ada serangan dari Kerajaan Cirebon.
Sebagai
pengganti Adipati Arya Kiban ditunjuk Arya mangkubumi, Demang Jaga Patih,
Demang Raksa Pura, dan dibantu oleh Patih Loa dan Dempu Awang keduanya berasal dari dataran
Cina. Syeh Syarif Hidayatulloh melihat Kerajaan Rajagaluh berkesimpulan bahwa
prajurit Cirebon tidak akan mampu menaklukan Rajagaluh kecuali dengan taktik
yang halus. Hal ini mengingat akan kesaktian Prabu Cakraningrat. Akhirnya Syeh
Sarif Hidayatulloh mengutus 3 (tiga) orang utusan yakni Syeh Magelung Sakti,
Pangeran Santri, Pangeran Dogol serta diikut sertakan ratusan Prajurit.
Pengiriman utusan dari Cirebon dengan segera dapat diketahui oleh Prabu Cakra
Ningrat, beliaupun segera menugaskan patih Loa dan Dempu Awang untuk
menghadangnya. Saat itupun terjadilah pertempuran sengit, tetapi prajurit
Cirebon dapat dipukul mundur, Melihat prajurit Cirebon kucar-kacir maka majulah
Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri dan Pangeran Dogol, terjadilah perang
tanding melawan Patih Loa dan Dempu Awang. Perang tanding tidak kunjung selesai
karena kedua belah pihak seimbang kekuatannya, yang akhirnya pihak Cirebon
mundur dari daerah Rajagaluh.
Situ
Batu Jangkung peninggalan kerajaan Rajagaluh
Prajurit
Cirebon terus menerus berupaya menyerbu kota Rajagaluh. Pertahanan Rajagaluh
semakin lemah sehingga Rajagaluh mengalami kekalahan. Prabu Cakra Ningrat
sendiri melarikan diri. Sementara anaknya Nyi Putri Indangsari tidak ikut serta
dengan ayahnya, Ia pergi kesebelah utara sekarang di kenal dengan Desa Cidenok.
Di Cidenok Nyi Putri tidak lama, ia teringat akan ayahnya. Nyi Putri sadar
apapun kesalahan yang dilakukan oleh Sang Prabu Cakra Ningrat, sang Prabu
adalah ayah kandungnya yang sangat ia cintai, iapun berniat menyusul ayahnya,
tetapi ditengah perjalanan Nyi Putri dihadang oleh prajurit Cirebon yang
dipimpin oleh Pangeran Birawa. Nyi Putri dan pengawalnya ditangkap kemudian
diadili.
Pengadilan akan
membebaskan hukuman bagi Nyi Putri dengan syarat mau masuk islam. Akhirnya
semua pengawalnya masuk islam tapi Nyi Putri sendiri menolaknya, maka Nyi Putri
Indangsari ditahan disebuah gua. Alkisah menghilangnya Adipati Arya Kiban yang
cukup lama akibat kekalahannya oleh Adipati Awangga saat perang tanding, ia
timbul kesadarannya untuk kembali ke Rajagaluh untuk menemui Prabu Cakra
Ningrat untuk meminta maaf atas kesalahannya. Namun yang ia dapatkan hanyalah
puing-puing kerajaan yang sudah hancur luluh. Ia menangis sedih penuh
penyesalan. Ia menrenungkan nasibnya dipinggiran kota Rajagaluh. Tempat
tersebut sekarang dikenal dengan Batu Jangkung (batu tinggi). Ditempat itu pula
akhirnya Adipati Arya Kiban ditangkap oleh prajurit Cirebon, kemudian
ditahan/dipenjarakan bersama Nyi Putri Indangsari disebuah gua yang dikenal
dengan Gua Dalem yang berada di daerah Kedung Bunder, Palimanan. Dikisahkan
bahwa Nyi Putri Indangsari dan Adiapti Arya Kiban meninggal di gua tempat ia
dipenjarakan (Gua Dalem), kisah lain keduanya mengilang.[14]
Masa Penjajahan Belanda
Pembentukan Kabupaten Maja
Tahun 1819 dibentuk
Karesidenan Cirebon yang terdiri atas Keregenaan (Kabupaten) Cirebon, Kuningan, Bengawan
Wetan, Galuh
(Ciamis Sekarang) dan Maja. Kabupaten Maja adalah
cikal bakal Kabupaten Majalengka. Pembentukan Kabupaten Maja berdasarkan Besluit (Surat
Keputusan) Komisaris Gubernur Jendral Hindia Belanda No.23
Tanggal 5 Januari 1819. Kabupaten Maja adalah gabungan dari tiga
distrik yaitu. Distrik Sindangkasih, Distrik Talaga, dan Distrik Rajagaluh.
Kabupaten Maja beribu kota di Kota Kecamatan Maja sekarang. Bupati pertama
Kabupaten Maja adalah RT Dendranegara. Kabupaten Maja mencakup wilayah Talaga,
Maja, Sindangkasih, Rajagaluh, Palimanan dan Kedondong.
Perubahan Nama Kabupaten Maja menjadi Kabupaten
Majalengka
Tanggal 11 Februari 1840, keluar surat Staatsblad No.7 dan Besluit Gubernur Jendral Hindia Belanda No.2 yang menjelasakan perpindahan Ibu kota Kabupaten ke Wilayah Sindangkasih yang kemudian diberi nama 'Majalengka', kemudian nama Kabupaten disesuaikan dengan nama ibu kota kabupaten yang baru, dari Kabupaten Maja menjadi Kabupaten Majalengka. Pemberian nama Majalengka atau dari mana asal usul Majalengka masih menjadi misteri, Nama Majalengka menurut Legenda adalah ucapan ‘Majane Langka” dari pasukan Cirebon serta Pangeran Muhammad dan Siti Armilah ketika tidak menemukan buah Maja setelah Hutan Pohon Maja dihilangkan oleh Nyi Rambut Kasih, Ratu Kerajaan Sindangkasih. Dalam Buku Sejarah Majalengka Karya N. Kartika yang mewawancarai Budayawan Ayatrohaedi, Nama Majalengka bila diartikan dalam bahasa Jawa Kuno yaitu kata ‘Maja’ merupakan nama buah dan kata ‘Lengka’ yang berati pahit, jadi kata 'Majalengka' adalah nama lain dari kata Majapahit. Majalengka sebagai ibu kota kabupaten selanjutnya semakin dikuatkan dengan adanya Surat Staatsblad, 1887 No. 159 mengatur dan menjelaskan tentang batas-batas wilayah dari Kota Majalengka.
Masa Penjajahan Jepang
Masa penjajahan Jepang (1942-1945) di Majalengka ditandai
dengan adanya eksploitasi romusha dan
pembangunan Lapangan Terbang Militer Jepang di
Kawasan Ligung.
Lapangan terbang ini diselesaikan pada tahun 1944, dan pasukan Jepang dari sana
terbang untuk melakukan operasi militer di Burma (Myanmar) pada
tahun 1945
Geografis
Secara
geografis Kabupaten Majalengka terletak di bagian timur Propinsi Jawa Barat.
Kabupaten Majalengka terletak pada titik koordinat yaitu Sebelah Barat 108° 03'
- 108° 19 Bujur Timur, Sebelah Timur 108° 12' - 108° 25 Bujur Timur, Sebelah
Utara 6° 36' - 5°58 Lintang Selatan dan Sebelah Selatan 6° 43' - 7°44.
Batas Wilayah
Bagian Utara wilayah
kabupaten ini merupakan dataran rendah, sementara wilayah tengah berbukit-bukit
dan wilayah selatan merupakan wilayah pegunungan dengan puncaknya Gunung Ceremai yang
berbatasan dengan Kabupaten
Kuningan serta Gunung Cakrabuana yang berbatasan dengan Kabupaten
Tasikmalaya dan Kabupaten
Sumedang. Secara administratif berbatasan dengan:
·
Sebelah Utara: Kabupaten
Indramayu.
·
Sebelah Selatan: Kabupaten Garut, Kabupaten
Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis.
·
Sebaleh Barat: Kabupaten
Sumedang.
·
Sebelah Timur: Kabupaten Cirebon dan Kabupaten
Kuningan.
Topografi dan Geografi
Bagian
utara wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah, sedang di bagian selatan
berupa pegunungan. Gunung
Ciremai (3.076 m) berada di bagian timur, yakni di perbatasan
dengan Kabupaten
Kuningan. Gunung ini adalah gunung tertinggi di Provinsi Jawa Barat, dan
merupakan taman nasional, dengan nama Taman Nasional Gunung Ciremai
Keadaan geografi
khususnya morfologi dan fisiografi wilayah Kabupaten Majalengka
sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh perbedaan ketinggian suatu daerah dengan
daerah lainnya, dengan distribusi sebagai berikut:
Morfologi dataran rendah yang meliputi Kecamatan
Kadipaten, Kasokandel, Panyingkiran, Dawuan, Jatiwangi, Sumberjaya, Ligung, Jatitujuh, Kertajati, Cigasong, Majalengka, Leuwimunding dan Palasah.
Kemiringan tanah di daerah ini antara 5%-8% dengan ketinggian antara 20–100 m
di atas permukaan laut (dpl), kecuali di Kecamatan Majalengka tersebar beberapa
perbukitan rendah dengan kemiringan antara 15%-25%.
Morfologi berbukit dan
bergelombang meliputi Kecamatan
Rajagaluh dan Sukahaji sebelah
Selatan, Kecamatan
Maja, sebagian Kecamatan
Majalengka. Kemiringan tanah di daerah ini berkisar antara 15-40%,
dengan ketinggian 300–700 m dpl.
Morfologi perbukitan
terjal meliputi daerah sekitar Gunung Ciremai, sebagian
kecil Kecamatan Rajagaluh, Argapura, Sindang, Talaga,
sebagian Kecamatan Sindangwangi, Cingambul, Banjaran, Bantarujeg, Malausma dan Lemahsugih dan Kecamatan
Cikijing bagian Utara. Kemiringan di daerah ini berkisar
25%-40% dengan ketinggian antara 400–2000 m di atas permukaan laut.
Geologi
Menurut
keadaan geologi yang meliputi sebaran dan struktur batuan, terdapat beberapa
batuan dan formasi batuan yaitu Aluvium seluas 17.162 Ha (14,25%), Pleistocene
Sedimentary Facies seluas 13.716 Ha (13,39%), Miocene Sedimentary Facies seluas
23,48 Ha (19,50%), Undiferentionet Vulcanic Product seluas 51.650 Ha (42,89%),
Pliocene Sedimentary Facies, seluas 3.870 Ha (3,22%), Liparite Dacite seluas
179 Ha (0,15%), Eosene seluas 78 Ha (0,006%), Old Quartenary Volkanik Product
seluas 10.283 Ha (8,54%). Jenis-jenis tanah di Kabupaten Majalengka ada
beberapa macam, secara umum jenis tanah terdiri atas Latosol, Podsolik,
Grumosol, Aluvial, Regosol, Mediteran, dan asosianya. Jenis-jenis tanah
tersebut memegang peranan penting dalam menentukan tingkat kesuburan tanah
dalam menunjang keberhasilan sektor pertanian.
Hidrologi
Dari aspek hidrologis di
Kabupaten Majalengka mempunyai beberapa jenis potensi sumber daya air yang
dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Potensi sumber daya air
tersebut meliputi:
Air permukaan, seperti
mata air, sungai, danau, waduk lapangan atau rawa, Air tanah, seperti sumur bor
dan pompa pantek dan air hujan. Sungai yang besar di antaranya adalah Cilutung, Cijurey, Cideres, Cikeruh, Ciherang, Cikadondong,
Ciwaringin, Cilongkrang, Ciawi dan Cimanuk.
Iklim
Curah hujan tahunan
rata-rata di Kabupaten Majalengka berkisar antara
2.400 mm-3.800 mm/tahun dengan rata-rata hari hujan sebanyak 11
hari/bulan. Angin pada umumnya bertiup dari arah Selatan dan tenggara, kecuali
pada bulan April sampai dengan Juli bertiup dari arah Barat Laut dengan
kecepatan antara 3-6 knot (1 knot =1.285 m/jam).
Pemerintahan
Daftar Bupati
Berikut adalah Daftar Bupati Majalengka dari
masa ke masa.
|
No |
Bupati |
Mulai menjabat |
Akhir menjabat |
Prd. |
Wakil Bupati |
Ket. |
||
|
1 |
R.
T. Dendanegara |
1819 |
1849 |
1 |
||||
|
2 |
R.
A. A. Kartadiningrat |
1849 |
1861 |
2 |
||||
|
3 |
R.T.
Soera-adiningrat |
10 Januari 1863 [15] |
1 Juli 1883 [16] |
3 |
Kemudian menjabat Bupati
Cirebon |
|||
|
4 |
R.M.T.
Alibasah Soeriadiredja |
7 Agustus 1883 [17] |
11 April 1894 [18] |
4 |
||||
|
5 |
R.T.
Salmon Salam Soerjadiningrat |
16 Juli 1894 [19] |
19 Agustus 1902 [20] |
5 |
Kemudian menjabat Bupati
Cirebon |
|||
|
6 |
R.A.A.
Sasraningrat |
19 Agustus 1902 |
4 Desember 1922 [21] |
6 |
||||
|
7 |
R.M.A.A.
Soeriatanoedibrata |
3 Agustus 1922 [22] |
1 Desember 1944 [7] |
7 |
Sebelumnya menjabat Bupati
Kuningan |
|||
|
8 |
R.T.
Oemar Said |
1 Desember 1944 [7] |
15 Juli 1945 [7] |
9 |
Sebelumnya menjabat Bupati
Kunigan. Sesudahnya jadi Bupati
Cirebon |
|||
|
9 |
R.
Enoch |
15 Juli 1945 [7] |
1947 |
10 |
Kelak jadi Walikota Bandung |
|||
|
10 |
R.
H. Hamid |
1947 |
1948 |
11 |
||||
|
11 |
R.
Sulaeman Nata Amijaya |
1948 |
1949 |
12 |
||||
|
12 |
M.
Chavil |
1949 |
1949 |
13 |
||||
|
13 |
R.
M. Nuratmadibrata |
1949 |
1957 |
14 |
||||
|
14 |
H. |
1957 |
1960 |
15 |
||||
|
15 |
H. |
1960 |
1966 |
16 |
||||
|
16 |
R.
Saleh Sediana |
1966 |
1978 |
17 |
||||
|
17 |
H. |
1978 |
1983 |
18 |
||||
|
18 |
H. |
1983 |
1988 |
19 |
||||
|
19 |
Drs.
H. |
1988 |
1993 |
20 |
||||
|
20 |
Drs.
H. |
1993 |
1998 |
21 |
||||
|
21 |
Hj. |
1998 |
2003 |
22 |
M.
Iqbal |
|||
|
2003 |
2008 |
23 |
KH. |
|||||
|
22 |
11 Desember 2008 |
11 Desember 2013 |
24 |
|||||
|
11 Desember 2013 |
20 September 2018 |
25 |
||||||
|
23 |
26 November 2018 |
Sekarang |
26 |
|||||
Dewan Perwakilan
Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Majalengka dalam dua
periode terakhir.[26][27]
|
Partai Politik |
Jumlah Kursi dalam
Periode |
|
|
2014-2019 |
2019-2024 |
|
|
6 |
|
|
|
5 |
|
|
|
18 |
|
|
|
5 |
|
|
|
1 |
|
|
|
4 |
|
|
|
4 |
|
|
|
3 |
|
|
|
4 |
|
|
|
Jumlah Anggota |
50 |
|
|
Jumlah Partai |
9 |
|
Kecamatan
Kabupaten Majalengka
memiliki 26 kecamatan, 13 kelurahan, dan 330 desa. Pada tahun 2017, jumlah
penduduk mencapai 1.266.981 jiwa dengan luas wilayah 1.204,24 km² dan sebaran
penduduk 1.052 jiwa/km².[28][29]
Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Majalengka,
adalah sebagai berikut:
|
Kode |
Kecamatan |
Kelurahan |
Desa |
Status |
Daftar |
|
32.10.05 |
14 |
Desa |
·
Cibunut ·
Haurseah ·
Sadasari ·
Sagara ·
Sukadana |
||
|
32.10.22 |
13 |
Desa |
·
Banjaran ·
Cimeong ·
Genteng ·
Kagok ·
Kareo ·
Sangiang ·
Sunia |
||
|
32.10.02 |
13 |
Desa |
·
Cikidang ·
Cinambo |
||
|
32.10.20 |
3 |
7 |
Desa |
·
Baribis ·
Batujaya ·
Tajur |
|
|
Kelurahan |
·
Cicenang ·
Cigasong |
||||
|
32.10.03 |
15 |
Desa |
·
Cidulang ·
Cikijing ·
Cipulus ·
Cisoka ·
Jagasari ·
Kancana ·
Kasturi ·
Sindang ·
Sukasari ·
Sunalari |
||
|
32.10.23 |
13 |
Desa |
·
Cidadap ·
Maniis ·
Rawa ·
Sedaraja |
||
|
32.10.12 |
11 |
Desa |
·
Balida ·
Dawuan ·
Gandu ·
Genteng ·
Mandapa ·
Salawana |
||
|
32.10.15 |
15 |
Desa |
·
Biyawak ·
Jatiraga ·
Panongan |
||
|
32.10.11 |
16 |
Desa |
·
Andir ·
Cibentar ·
Cicadas ·
Jatisura ·
Loji |
||
|
32.10.13 |
7 |
Desa |
·
Cipaku ·
Heuleut ·
Pagandon |
||
|
32.10.24 |
10 |
Desa |
·
Wanajaya |
||
|
32.10.14 |
14 |
Desa |
·
Babakan ·
Palasah ·
Sukawana |
||
|
32.10.01 |
19 |
Desa |
·
Cibulan ·
Cigaleuh ·
Cipasung ·
Kepuh ·
Padarek ·
Sukajadi ·
Sukamaju ·
Cisalak |
||
|
32.10.10 |
14 |
Desa |
·
Ciparay ·
Heuleut ·
Lame ·
Mindi ·
Mirat ·
Parakan ·
Patuanan |
||
|
32.10.16 |
19 |
Desa |
·
Ampel ·
Beber ·
Beusi ·
Buntu ·
Cibogor ·
Kodasari ·
Ligung ·
Majasari ·
Sukawera |
||
|
32.10.06 |
18 |
Desa |
·
Banjaran ·
Cengal ·
Cicalung ·
Cieurih ·
Cihaur ·
Cipicung ·
Paniis ·
Pageraji ·
Wanahayu |
||
|
32.10.07 |
10 |
4 |
Desa |
·
Cibodas ·
Kulur |
|
|
Kelurahan |
·
Cicurug ·
Cijati ·
Munjul ·
Tonjong |
||||
|
32.10.26 |
11 |
Desa |
·
Ciranca ·
Malausma ·
Sukadana ·
Werasari |
||
|
32.10.19 |
13 |
Desa |
·
Majasuka ·
Palasah ·
Pasir ·
Trajaya ·
Karamat ·
Waringin ·
Weragati |
||
|
32.10.18 |
9 |
Desa |
·
Bonang ·
Cijurey |
||
|
32.10.09 |
13 |
Desa |
·
Cipinang ·
Cisetu ·
Kumbung ·
Pajajar ·
Payung ·
Sadomas ·
Teja |
||
|
32.10.25 |
7 |
Desa |
·
Bayureja ·
Pasirayu ·
Sindang |
||
|
32.10.21 |
10 |
Desa |
|||
|
32.10.08 |
13 |
Desa |
·
Cikalong ·
Cikeusik ·
Cikoneng ·
Ciomas ·
Jayi ·
Palabuan ·
Sukahaji |
||
|
32.10.17 |
15 |
Desa |
·
Banjaran ·
Cidenok ·
Sepat |
||
|
32.10.04 |
17 |
Desa |
·
Argasari ·
Campaga ·
Cicanir ·
Cikeusal ·
Ganeas ·
Salado |
||
|
TOTAL |
13 |
330 |
Demografi
Jumlah
Penduduk Kabupaten Majalengka Berdasarkan BPS Kabupaten Majalengka Tahun 2013 adalah 1.180.774
Jiwa terdiri dari 590.038 jiwa penduduk laki-laki dan 590.736 jiwa penduduk
perempuan. Rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2013
adalah 981 jiwa/km². Kepadatan tertinggi berada di Kecamatan Jatiwangi dengan
kepadatan 2.087 jiwa/km². Wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak adalah:
1. Kecamatan
Jatiwangi: 83.450 jiwa.
2. Kecamatan
Majalengka: 69.946 jiwa.
3. Kecamatan
Cikijing: 60.581 jiwa.
4. Kecamatan
Lemahsugih: 57.928 jiwa.
5. Kecamatan
Sumberjaya: 57.353 jiwa.
Mayoritas Masyarakat Majalengka berasal dari etnis Sunda. Bahasa yang
digunakan Bahasa
Sunda, akan tetapi memiliki perbedaan beberapa arti dan kosakata
dengan Bahasa Sunda di Kawasan Priangan. Bahasa Sunda di Majalengka merupakan
bahasa Sunda dialek Tengah Timur. Dibeberapa wilayah Majalengka masyarakatnya
merupakan Etnis Cirebon/Wong
Cerbon dan menggunakan bahasa Cirebon, seperti di
utara dan Timur Jatitujuh, Kertajati, Ligung, Sumberjaya dan Desa Patuanan di Kecamatan
Leuwimunding.
Kebudayaan
Sebagai wilayah yang
dilalui oleh dua kebudayaan besar yaitu Sunda & Cirebon maka Kabupaten
Majalengka memiliki keragaman seni budaya yaitu
- Sampyong
- Wayang Golek
- Wayang
Kulit
- Pencak
Silat
- Genjring
Akrobat
- Kacapi
Suling
- Pantun
- Sandiwara
- Gaok
- Jaipong, Degung dan
Kliningan
- Sintren
- Tarling
- Tari
topeng Beber
- Kuda Penca
- Rudat
- Pareresan
- Mapag Sri
- Ngalaksa
- Gembyung
- Tari Kedempling
Kuliner
- Kecap Majalangka
- Mangga Gedong Gincu
- Opak
- Rangginang
- Nasi Lengko
- Jalakotek
- Emping
- Kripik Jagung
- Dodol Jambu
- Keripik Pisang
- Gula Cakar
- Jambu
Keletuk Merah
Transportasi
Transportasi Darat
Angkutan Jalan Raya[
Wilayah Kabupaten Majalengka merupakan daerah penghubung antara kawasan Priangan dengan Cirebon, dilewati Jalan Negara Bandung - Cirebon dan Cirebon - Ciamis, Selain itu pula dilintasi Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) dengan dua pintu tol dikawasan Kertajati dan Sumberjaya. Berikut sarana dan prasarana angkutan darat di Majalengka:
Prasarana Angkutan Jalan Raya
- Terminal
Cipaku Kadipaten
- Terminal
Cigasong
- Terminal
Rajagaluh
- Terminal
Maja
- Terminal
Talaga
- Terminal
Cikijing
- Terminal
Bantarujeg
Angkutan Dalam Kota
Angkot
1A: Jurusan Terminal Cigasong -
Terminal Cipaku Kadipaten via
Jalan Jatisampay - Kartini - Suma - Makmur - Pahlawan.
- Angkot 1B:
Jurusan Terminal Cigasong -
Terminal Cipaku Kadipaten via Jalan Suha - Ahmad Yani - Babakan
Jawa - Letkol A. Gani - Imam Bonjol.
- Angkot IC:
Jurusan Terminal Cigasong -
Terminal Cipaku Kadipaten via Jalan Gerakan Koperasi - Ahmad
Kusumah - Jatisampay - Kesehatan - Pertanian.
- Angkot ID:
Jurusan Terminal Cigasong -
Terminal Cipaku Kadipaten via Pasirmuncang-Cijurey-Leuwiseeng.
Angkutan Perkotaan[
- Angkot Cigasong - Jatiwangi
- Angkot Cigasong - Leuwikidang - Termical Cipaku
- Angkot Talaga -
Cikijing
- Angkot Talaga - Bantarujeg - Sadawangi
- Angkot Rajagaluh- Prapatan
- Angkot Kadipaten - Jatiwangi - Prapatan
- Angkot Kadipaten - Jatitujuh
- Angkot Rajagaluh - Weragati - Jatiwangi
- Angkot Sumberjaya - Bantarwaru
- Angdes Rajagaluh - Pajajar-Garawastu
Elf (Mikro Bus)
- Cikijing - Kuningan - Cirebon
- Cikijing - Bandung (Terminal Cicaheum)
- Cikijing -
Bandung (Terminal Leuwipanjang)
- Bantarujeg - Bandung (via Wado)
- Kadipaten - Cirebon
- Rajagaluh - Cirebon
Bus
- Rajagaluh - Cikarang
- Rajagaluh - Bekasi
- Bantarujeg - Cikarang
- Bantarujeg - Bekasi
- Bantarujeg - Bandung
- Cikijing - Cikarang.
- SumberRajagaluh - Cikarang
Kereta Api
Kabupaten Majalengka
dahulu memiliki jalur kereta api yang menghubungkan Cirebon-Kadipaten. Dibangun
oleh perusahan swasta Belanda Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) pada tahun 1901. Jalur ini kemudian
ditutup pada tahun 1978 akibat kalah bersaing dengan moda angkutan darat
lainnya. Berikut Daftar Eks Stasiun Kereta Api di wilayah Majalengka:
Transportasi Udara
Sejak Tahun 2013 mulai dibangun Proyek Bandara Internasional Jawa Barat di Kecamatan Kertajati. Ditargetkan Bandara Internasional ini dapat beroperasi pada pertengahan tahun 2018.[1] Bandara ini membutuhkan lahan seluas 1.800 hektar dan direncanakan juga terdapat kawasan Aerocity Kertajati untuk mendukung keberadaan Bandara tersebut.
Pariwisata
Wisata Air Terjun
1. Curug Sawer: Desa Argalingga Kecamatan Argapura.
2. Curug Sempong: Desa Sidamukti Kecamtan Majalengka.
3. Curug Tonjong: Desa Teja Kecamatan Rajagaluh.
4. Curug Baligo: Desa Padaherang Kecamatan Sindangwangi.
5. Curug Cipeuteuy: Desa Bantaragung Kecamatan Sindangwangi.
6. Curug Leles: Desa Lengkong Kulon Sindangwangi.
7. Curug Emas/Cilutung: Desa Campaga Kecamatan Talaga.
8. Curug Santang: Desa Argalingga Kecamatan Argapura.
Wisata Danau
1. Situ Cipadung: Desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh.
2. Situ Cipanten: Desa Gunungkuning Kecamatan Sindang.
3. Situ Cikuda: Desa Padaherang Kecamatan Sindangwangi.
4. Situ Cibulakan: Desa Bantaragung Kecamatan Sindangwangi
5. Talaga Herang: Desa Jerukleueut Kecamatan Sindangwangi.
6. Talaga Nila: Desa Jerukleueut Kecamatan Sindangwangi.
Wisata Panorama Alam
1. Perkebunan Teh Cipasung: Desa Cipasung Kecamatan Lemahsugih.
2. Panorama Cikebo: Desa Anggrawati Kecamatan Maja dan Desa Sagara Kecamata Argapura.
3. Panorama Panyaweuyan: Desa Tejamulya Kecamatan Argapura.
4. Panorama Ciinjuk: Desa Cipulus Kecamatan Cikijing.
5. Panorama Jahim: Desa Cintaasih Kecamatan Cingambul.
6. Bendungan Rentang: Desa Randegan Kulon Kecamatan
Jatitujuh.
7. Wana Wisata Gunung Panten: Desa Sidamukti Kecamatan Majalengka.
8. Teras Sawah Payung: Desa Payung, Kecamatan Rajagaluh.[30]
Wisata Sejarah dan Budaya
Berkas:Rumah Adat Panjalin IX (foto
dokumen Disparbud Jawa Barat).jpg
Detail
Rumah Adat Panjalin
1. Museum Talaga Manggung: Desa Talaga
Wetan Kecamatan Talaga.
2. Rumah Adat Panjalin: Desa Panjalin Kidul Kecamatan Sumberjaya.
3. Patilasan Prabu Siliwangi: Desa Pajajar Kecamatan
Rajagaluh.
4. Situs Sanghyang Lingga: Desa Banjaran Kecamatan Banjaran.
5. Situs Gunung Ageung: Desa Cipasung Kesamatan Lemahsugih.
6. Makam Pangeran Muhammad: Kelurahan Sindangkasih Kecamatan Majalengka.
7. Patilasan Nyi Rambutkasih: Kelurahan Sindangkasih Kecamatan Majalengka.
8. Makam Siti Armilah: Kelurahan Majalengka Kulon Kecamatan Majalengka.
9. Makam Sunan Parung: Desa Sangiang Kecamatan Banjaran.
10. Makan Sunan Wanaperih: Desa Kagok Kecamatan Banjaran.
Wisata Minat Khusus
1. Wisata Paralayang Gunung Panten: Kelurahan Munjul Kecamatan Majalengka.
2. Sirkuit Grasstrack Buahlega: Desa Sidamukti Kecamatan Majalengka.
3. Sirkuit Motorcross Gagaraji: Desa Pangkalan Pari Kecamatan Jatitujuh.
4. Pendakian Gunung Ciremai: Desa Argamukti Kecamatan Argapura.
5. Bumi Perkemahan Cipanten: Desa Argalingga Kecamatan Argapura.
6. Bumi Perkemahan Awilega: Desa Bantaragung Kecamatan Sindangwangi.
7. Bumi Perkemahan Leles: Desa Lengkong Kulon Kecamatan Sindangwangi.
8. Kolam Renang Rajawali: Desa Liangjulang Kecamatan Kadipaten.
9. Kolam Renang Tirta Indah: Desa Lengkong Kulon Kecamatan Sindangwangi.
10. Kolam Renang Jembar Waterpark: Desa Ranji Wetan Kecamatan Kasokandel.
11. Jatiwangi Art Factory, Desa Wisata Jatisura: Desa Jatisura Kecamatan Jatiwangi.
12. Waterboom Tohaga Indah: Desa Burujulkulon Kecamatan
Jatiwangi.
Putera
Daerah
·
KH
Abdul Halim, Pahlawan Nasional
·
William
Soerjadjaja, Penguasaha Nasional Pendiri PT Astra Intenasional
·
Ajip Rosidi, Sastrawan
·
Djajang Nurdjaman, Mantan
Pemain dan Pelatih Persib
Bandung, Pelatih PS Barito putera
·
Emen Suwarman, Mantan
Pemain dan Legenda Persib
Bandung
·
Ayatrohaedi, Sastrawan
Indonesia
·
Kharisma Aura.Miss Grand
Indonesia 2020
Catatan
kaki
1. ^ Bupati Maja (1819–1840)
2. ^ Menjadi Plt Bupati sejak 20 September 2018 karena
Bupati Sutrisno mengundurkan diri karena mencalonkan menjadi Anggota DPR-RI,[23] lalu
dilantik sebagai Bupati Majalengka sisa masa jabatan 2013-2018 pada 26 November
2018[24] menjabat
selama dua minggu, akhirnya dilantik menjadi Bupati hasil Pilkada Kabupaten
Majalengka pada tanggal 19 Desember 2018, berpasangan dengan Tarsono.[25]








0 comments:
Posting Komentar